ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Was-was Saat Menyeberang di Depan UIN

Oleh: Emi Susilawati

BANDUNG -- Keselamatan dan kenyamanan saat menyeberang merupakan hak bagi masyarakat. Begitu pula bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, yang senantiasa was-was ketika menyebrang di depan kampus.

Rasa was-was saat menyebrang di depan kampus memang wajar. Pasalnya, posisinya berada dekat belokan dan kendaraan yang melintas pun seringkali berjalan cepat. Nyaris sulit bagi mahasiswa pejalan kaki dan pengguna roda dua yang berniat melintas menuju kampus.

Namun sayangnya, fasilitas yang ada tak memadai. Bukan hanya minimnya fasilitas penyeberangan yang nyaman dan aman seperti zebracross, rambu-rambu lalu lintas, ataupun jembatan penyeberangan.
Rasa was-was saat menyebrang di depan kampus bukanlah isapan jempol. Ini seperti yang dirasakan mahasiswa jurnalistik semester satu UIN SGD Bandung, Sri Yuni Muharani yang kerap merasa cemas dan was-was ketika hendak menyeberang. 
“Karena tikungan, kendaraan itu kalau di tikungan biasanya lajunya kencang. Apalagi tidak ada penyeberangan jalan, jadi makin susah dan takut,” ujarnya di depan Kampus UIN SGD Bandung, Senin (14/12).
Menurutnya, fasilitas penyeberangan jalan sangatlah diperlukan untuk pengguna jalan. Apalagi di depan kampus UIN banyak mahasiswa atau pun warga yang menyeberang jalan. 
Hal sama diamini mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester tujuh UIN SGD Bandung, Febriyan Delfita Sari. Ia berharap, adanya fasilitas penyeberangan jalan di UIN.

“Ya semoga saja ke depannya  bisa ada fasilitas penyeberangan jalan, untuk keselamatan para pengguna jalan,” harap Febi panggilan akrabnya, di akhir pembicaraan.[] Mahasiswa Jurnalistik III B | Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung

Oleh: Emi Susilawati BANDUNG -- Keselamatan dan kenyamanan saat menyeberang merupakan hak bagi masyarakat. Begitu pula bagi mahasiswa Un...

Ilham, Top Scorer se-UIN Bandung

BANDUNG--Ilham Fatucrohman (19), mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prodi Jurnalistik Semester 3B mulai menyukai sepak bola semenjak ia duduk di SD (Sekolah Dasar). Kesukaannya terhadap sepak bola hingga membuahkan prestasi bukanlah hal mudah. Butuh proses panjang dan berliku.

Ilham Faturochman mempunyai strategi bermain jitu, jika berada di lapangan. “Mungkin kalau di lapang ini tim, tapi secara individu saya menjaga daya tahan fisik, agar tidak kedodoran saat di lapangan. Untuk saling membantu kinerja satu sama lain, intinya fisik. Fisik jangan bergadang, merokok, dan minum kopi,” ujar Ilham di Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jumat (11/12).

Pria kelahiran Tasikmalaya, 16 November 1996 silam ini juga mengatakan, ia sangat termotivasi dengan pemain bola luar negeri. Selain itu, orang tuanya juga sangat mendukungnya.

“Yang pertama, kedua orangtua saya selalu mendukung di manapun saya tampil. Mereka selalu mendoakan saya, dan yang kedua adalah pemain bola Lionel Mesi pemain luar negeri,”ujarnya.
Sementara itu, untuk prestasi yang didapatkan Ilham, yakni Juara Top Scorer dan Best Player antar-mahasiswa di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.  Ilham mengaku senang ketika mendapatkan juara selama ia menjadi mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
“Alhamdulillah senang banget, saya bisa menjadi Top Scorer se-UIN Bandung dan Best Player. Itu berkat kerja sama tim, mungkin bukan dari diri saya sendiri, tapi skill mengikuti,” ujar Ilham. [] Febry Dwiyanti Isbet | Jurnalistik III B | Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

BANDUNG--Ilham Fatucrohman (19), mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prodi Jurnalistik Semester 3B mulai menyukai sepak bola semenja...

"Jam Malam" Hambat Kreativitas Mahasiswa?

Mahasiswa mendiskusikan topik liputan [Foto: EMH]
BANDUNG | Pemberlakuan "jam malam" di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung bukan tanpa tujuan. Terutama meminimalisir peluang terjadinya perilaku tidak terpuji. "Jam malam" sebenarnya sudah dibahas pada masa kepemimpinan rektor sebelumnya,  Prof. Dr. H. Dedy Ismatulah S.H, M.Hum.

Mahasiswa mendiskusikan topik liputan [Foto: EMH] BANDUNG | Pemberlakuan "jam malam" di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung ...

Menilai Kepantasan Akreditasi

Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
BANDUNG | Akrediatasi merupakan  perwujudan dari sebuah nilai yang diberikan berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi  (BAN-PT) pada suatu jurusan.

Penilaian terhadap suatu program studi (prodi) atau jurusan pada perguruan tinggi negeri maupun swasta merupakan daya tarik tersendiri bagi calon mahasiswa yang akan mendaftar ke prodi yang diminatinya.

Akreditasi terkadang menjadi tolak ukur bagi calon mahasiswa  dalam menentukan jurusan yang akan dipilihnya. Nilai akreditasi A memang diharapkan setiap prodi dan jurusan, akan tetapi hal tersebut harus dilihat dari indikator penilaian yang ditetapkan  pihak asesor dari BAN-PT.

Proses penilaian akreditasi meliputi 7 indikator diantaranya : visi dan misi dan tujuan sarana program studi. tata pamong, kepemimpinan, system pengelolaann, penjaminan mutu, dan system informasi.  mahasiswa dan alumni, SDM,  kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik. pembiayaan sarana dan prasarana, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kerjasama, baik dri luar negeri maupun dalam negeri.

Proses penilain akreditasi mengacu pada tujuh standar yang kemudian dituangkan dalam borang, dan terdapat 100 item yang harus diisi oleh prodi dan fakultas. Pertama prodi mengajukan pengakreditasian lalu mengisi borang lalu dan menyerahkan kepada BAN-PT. Yang kemudian BAN-PT berdasarkan jadwalnya menilai borang itu.

Evalusi penilaian borang itu biasanya dilakukan oleh 2 asesor. “ Iya penilainnya dilakukan oleh 2 asesor yang berbeda perguruan tinggi bahkan kadang-kadang itu di cros antara perguruan tinggi umum seperti jurnalistik, ya itu tadi satu dari UIN, satu dari misalnya Unpad pokonya dari umum atau bisa dua-duanya dari umum,” ujar salah satu  anggota asesor BAN-PT, Prof. Dr. H. Asep Muhyidin, MA.

“Waktu yang ditetapkan untuk akreditasi itu selama 5 tahun sekali,” tambahnya.
Tujuan akreditasi selain keharusan sesuai aturan pemerintah, juga berimplikasi untuk menstandarkan mutu sebuah perguruan tinggi atau sebuah prodi.

Kualifikasi Lembaga

Darajat Wibawa, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi menerangkan, sebenarnya akreditasi itu adalah proses administrasi untuk menunjukkan kualifikasi sebuah lembaga pendidikan. Hakekat akreditasi itu sendiri untuk memenuhi standar sebuah proses perkuliahan yang representatif, dan akreditasi itu pada dasarnya untuk melihat sarana pra sarana, SDM, proses pebelajaran, proses pembinaan, dan tata pamong.

Akreditasi yang didapat jurusan komunikasi itu sekarang sudan final B. Namun sampai saat ini fakultas masih tetap berusaha untuk mendapatkan nilai tertinggi dalam akreditasi, pembangunan laboratorium yang dilakukan fakultas seperti sekarang ini semata-mata bukan untuk akreditasi namun untuk proses pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mahasiswa ketika melakukan perkuliahan.

“Fasilitas yang diharapkan untuk memenuhi standar A itu pada dasarnya untuk proses perkuliahan bukan untuk mengejar akreditasi,” ujarnya.

Untuk persiapan sarana prasarana dalam bentuk laboratorium tampaknya untuk sekarang fakultas sudah berani melakukan Re-akreditasi untuk mendapatkan nilai akreditasi yang tinggi.

Namun selain sarana prasarana, peran alumni terutama database alumni penting dan merupakan salah satu diantara penilaian yang mempengaruhi dalam mendapatkan nilai akreditasi A. Akan tetapi sampai saat ini database yang dimiliki fakultas masih data yang lama dan masih belum mendapatkan data alumni yang baru.

“Karena mobilitas alumni itu sangat sulit sehingga sampai saat ini kami belum mendapatkan database alumni,” tambahnya, Kamis (26/11).

Selain itu laboratorium yang menjadi salah satu hambatan untuk mendapatkan nilai akreditasi tertinggi tahun kemarin. Saat ini sudah dapat digunakan.  “Yang di Gedung  U sekarang sudah bisa digunakan untuk praktik, bahkan  alat-alat laboratorium nya itu terbaik,” tutur Encep Dul Wahab.

Tolok Ukur

Akreditasi yang didapat Jurusan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk saat ini B sudah merupakan kerja keras pihak jurusan. “Pihak jurusan juga masih mengupayakan untuk mendapatkan nilai tertinggi dari sebuah akreditasi, karena sangat penting dalam tolok ukur kualitas sebuah  jurusan,” kata Ketua Prodi Jurnalistik, Encep Dul Wahab.
“Akreditasi sangat penting bahkan bisa dikatakan utama dan paling pertama, karena pada saat ini akreditasi merupakan tolak ukur dan belum ada yang menjadi tolak ukur yang lain selain akreditas,”  jelasnya, Rabu (25/11).
Akreditasi B yang dimiliki jurusan jurnalistik mendapatkan respon baik dari mahasiwa. Nilai akreditasi sejauh ini sudah cukup. Salah satu mahasiswa, Wawan  Maulana Gunawan mengungkapakan, “Akreditasi jurusan jurnalistik yang sekarang sudah mendapatkan B itu sudah cukup sih menurut saya, hanya perlu melengkapi fasilitas seperti laboratorium serta peralatan dan studio yang sekarang sudah ada dan dapat digunakan . Untuk lebih terfasilitasi lagi kuliah kita,” ungkap  mahasiswa semester 5 itu saat diwawancarai, Rabu (25/11).

Hal sama diungkapkan salah satu alumni jurnalistik, Nazmi angkatan 2010. Akreditasi yang dimiliki ilmu komunikasi jurnalistik dengan nilai B cukup jika dilihat dari fasilitas yang dulu ada. Untuk akreditasi A tentunya bukan hanya adanya lab, dan gedung kuliah yang cukup, termasuk databse alumni yang harus diupdate.

Pada dasarnya peran alumni atau kurangnya respon dari alumni mengenai pengumpulan data itu tergantung individu-individu alumni itu sendiri. Karena mungkin dari jurusan itu sendiri kurang menjalin hubungan yang dekat dengan alumni, dan hanya ketika jurusan butuh, baru menghubungi para alumni.

“Kenapa tidak dipupuk mulai dari sekarang hubungan dengan alumni supaya jika ada keperluan satu sama lain menjadi mudah baik dari alaumni ke jurusan atau pun jurusan ke alumni,” saat ditemui Jurnalpos, Rabu (25/11).

Peran FKJU

Forum Komunikasi Jurnalistik UIN (FKJU) Bandung, merupakan wadah yang bisa menggandeng alumni yang sudah bekerja di media dan menjadi wartawan, sehingga nantinya akan memberikan manfaat atau feedback ke Jurnalistik UIN itu sendiri.

FKJU di bentuk pada bulan September 2014, salah satunya adalah untuk memberikan manfaat kepada mahasiswa Jurnalistik UIN. Ini  seperti dikatakan Koordinator FKJU, Andri Fauzi.

“Meskipun ini tahap awal dan masih jauh dari kesempurnaan, jadi kita bentuk dulu wadahnya. Untuk selanjutnya kita akan melakukan perbaikan-perbaikan,” tuturnya, Senin(23/11).

Kegiatan dari FKJU ini masih berbentuk diskusi atau sharing yang dilakukan secara fleksibel  di waktu luang. Diskusi terkait semua hal terutama mengenai keluhan kerja di lapangan.

“Kita mah kumpul tak tentu, karena belum ada sekertariat buat kumpul. Jadi, kumpulnya sambil ngopi, itu juga gimana bisanya kita paling malem sekitar pukul 22.00 ke atas. Kalau sudah selesai kerja, karena kalau siang kan kita di lapangan mencari berita,” terangnya.

Peran FKJU saat ini  untuk menfasilitasi bagi mahasiswa Jurnalistik yang ingin belajar dan berhubungan  mengenai dunia kejurnalistikan. Dalam akreditasi FKJU belum memiliki peranan yang penting, karena selain baru di bentuk juga  tidak memiliki data mengenai seluruh alumni Jurnalistik.

“Sebuah jurusan bisa besar, karena alumninya. Nah, kalau jurnalistik mau besar silahkan berdayakan alumni. Harusnya alumni jurnalistik juga di berdayakan sebagai dosen, seperti di Unpad, Unpar, ITB, UI, dan Unisba yang setiap angkatan ada yang dijadikan dosen. Jadi setiap ada keperluan gampang di-calling enak,” paparnya.

Anggota Asesor Fakultas Dakwah dan Komunikasi memberikan informasi bahwa jurusan dapat melakukan perbaikan akreditasi setelah 1 tahun atau lebih dengan lebih rapih dalam mendokunentasikan segala kegiatan yang dilaksanakakan  oleh jurusan serta data-data dari akademis.

“Sebetulnya tidak terlalu sulit ketika kita serius ingin mendapatkan nilai akreditasi terbaik. Kadang-kadang, mereka lalai untuk mendokumentasikan kegiatan,” jelasnya, Senin (23/11). []  Jurnalistik V | UIN Bandung


  • Tim Liputan:  
  • Fiqih Aulia Dalemonte, Larasati Syifa, Judarmanto, Novi Nurliyas W, Nina Indriyanti, Raka Ubaidillah


Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung BANDUNG | Akrediatasi merupakan  perwujudan dari sebuah nilai yang diberikan berdasark...

Mahasiswa Berprestasi, Minim Apreasiasi

Oleh: Ibnu Fauzi

Zona News Foto
Sulawesi Tengah Mei 2015 lalu, menjadi saksi bisu bagaimana Riyadi Saputra yang sukses mencetak sejarah perbulutangkisan UIN SGD Bandung. Pasalnya, ia berhasil menyabet gelar juara satu pada partai tunggal Pekan Imiah, Olahraga, Seni dan Riset (PIONIR) ke VII 2015 cabang bulutangkis.

“Alhamdulilah saya bisa membawa pulang medali emas, dan tinggal mengejar beberapa mata kuliah yang tertinggal dengan mengikuti semester pendek,“ katanya saat ditemui di kamar kostnya, Rabu (09/12/2015).

Selama mengikuti PIONIR 2015 ia harus meninggalkan perkuliahan, tak heran ia pun mendapat tujuh mata kuliah dengan nilai E.

Riyadi yang merupakan  mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik semester tujuh mengaku sudah menyukai bulutangkis sejak kecil. Sebelumnya, ia pernah meraih kejuaraan serupa yaitu juara tiga ganda putra PIONIR 2013.

Namun, uang pembinaan juara satu PIONIR 2015 yang ia terima terbilang terlambat. Kami mencoba mengonfirmasi kepada Kepala Bagian Kemahasiswaan, Asep Saepuddin. Menurutnya, ia tidak mengetahui persoalan terlambat uang pembinaan tersebut. “Itu kewenangan dari Jakarta (Red, Kemenag),” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (10/12/2015).

Riyadi pun menilai uang pembinaan yang diterimanya tidak sesuai dengan segaimana mestinya. Menanggapi hal tersebut, Asep tidak mengetahui perihal uang pembinaan itu. “Nanti saya coba hubungi Riyadinya,” katanya.

Ketika disinggung apresiasi pihak kampus kepada Riyadi, Asep mengatakan dirinya sudah memberikan beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Barat kepada Riyadi dan atlet lainnya yang sudah berprestasi pada PIONIR 2015.

Riyadi pun mengamini pernyataan Asep. “Pihak kampus cuma ngasih Beasiswa Pemprov Jabar, tapi itu kan dari pemerintah, bukan dari kampus,” katanya. Namun, ia menilai bahwa pihak kampus kurang mengapresiasi mahasiswa yang berprestasi dalam bidang olahraga. “Piala saja nggak ngasih, paling dari Dema,”  tambahnya.

Rabu (16/12/2015) Kami mendatangai Kepala Program Studi Jurnalistik, Encep Dulwahab mengatakan pihaknya sudah memberikan apresiasi terhadap Riyadi. Menurutnya, semua mahasiswa Jurnalistik yang beprestasi sudah diberikan apresiasi dalam bentuk beasiswa, yaitu beasiswa DIPA.

Sementara itu menyoal nilai semester yang didapatkan Riyadi, Dul sapaan akrabnya menilai bahwa mahasiswa masih dapat melobby dosen terkait. “Masih bisa, tergantung kebijakan dosen,” katanya saat ditemui di ruang dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Salah satu mahasiswa Jurnalistik, Fitri Sentika mengatakan pihak kampus seharusnya memberikan apresiasi berbentuk piagam. Ia pun berharap kepada fakultas atau jurusan untuk mendukung mahasiswa yang tengah mengikuti kompetisi.

“Dari saat ia berjuang, saat mengikuti lombanya, jangan hanya saat dia menang saja, kalo bisa didukung dari awal,” harapnya Rabu (17/12/2015). []

Reporter : Ibnu, Gina, Gio, Enggal, Isma, Elinda, Gustriani | Jurnalistik VB UIN Bandung

Oleh: Ibnu Fauzi Zona News Foto Sulawesi Tengah Mei 2015 lalu, menjadi saksi bisu bagaimana Riyadi Saputra yang sukses mencetak sejara...

Pembeda UAS Mahasiswa, Ya Take Home

Oleh Elsa Fitri Tsauri

BANDUNG -- Ujian Akhir Semester (UAS) adalah kegiatan yang biasa dilakukan saat tanda berakhirnya semester ganjil atau semester genap tiba. Minimalnya kegiatan UAS ini dilakukan sekitar satu minggu lamanya. Kegiatan UAS ini juga biasanya dilakukan untuk mengetahui kemampuan para pelajar tentang bagian pelajaran yang sudah diajarkan.

Jika di sekolah-sekolah seperti SD, SMP dan SMA, UAS tersebut dilakukan di kelas dengan cara mengisi soal yang telah disediakan sekolah atau Dinas Pendidikan (Disdik). Lain halnya dengan UAS para mahasiswa. Cara UAS mahasiswa tentu bisa berbeda dari UAS yang biasa dilakukan di sekolah-sekolah tersebut. Soal UAS yang diberikan kepada mahasiswa merupakan soal yang di berikan langsung oleh dosennya sendiri dan bukan dari Disdik.

Bahkan bentuk dan sifat UAS para mahasiswa itu bermacam-macam, ada yang tertulis, lisan, tertutup (close book), terbuka (open book) serta take home test. Secara garis besar, take home test merupakan UAS yang dikerjakan di luar kampus, seperti di rumah.
Teknisnya, mahasiswa diberi soal oleh dosen, dikerjakan di rumah dan dikumpulkan sesuai batas waktu yang sudah ditentukan dosen atau kesepakatan antara dosen dan mahasiswa. Tapi, menurut sebagian mahasiswa UAS dengan cara take home kadang-kadang lebih sulit dari pada UAS yang dilakukan secara lansung atau yang dikerjakan di kelas. 
“Tugas take home tidak memberatkan, jika memang tidak dibarengi dengan tugas-tugas yang lain. Namun, biasanya soal UAS take home lebih sulit, sehingga terkadang mahasiswa sukar untuk mengerjakannya. Apalagi dengan kebiasaan mahasiswa yang suka mengerjakan tugas last time (akhir waktu). Kadang UAS yang diberikan di kelas lebih baik ketimbang UAS take home dan lebih menghemat waktu,” ujar Lasya salah satu mahasiswa jurusan PGMI, Kamis (17/12).

Karena itu, Lasya mengatakan, jika seandaianya bisa meminta pada dosen, sebaiknya UAS yang dilakukan dengan cara take home maksimal hanya tiga mata kuliah saja dari semua mata kuliah yang diujiankan.[] Jurnalistik III B | Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

Oleh Elsa Fitri Tsauri BANDUNG -- Ujian Akhir Semester (UAS) adalah kegiatan yang biasa dilakukan saat tanda berakhirnya semester ganjil...

BEM Jurnalistik Jelang Pemilihan Presma

BANDUNG -- Pergantian pengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurnalistik UIN Bandung periode 2014-2015 tinggal menghitung hari. Presiden mahasiswa (Presma) Dea Andriyawan akan melepas jabatannya terhitung pada Sabtu 19 Desember 2015.

Kegiatan pemilihan presiden mahasiswa dan kepengurusan BEM Jurnalistik untuk periode 2015-2016 bakal dilakukan selama dua hari.

Di hari pertama dilaksanakan Jumat (18/12) dan Sabtu (19/12). Acara pemilu ‘besar’ ini dinamakan Musyawarah Himpunan Mahasiswa (Muhima). Muhima ini diselenggarakan pukul 07.30-selesai, dengan mengambil slogan ‘Membangun kesadaran berorganisasi melalui semangat kebersamaan dan kekeluargaan’.

“Agenda hari pertama, musyawarah untuk menentukan calon presma, untuk hari selanjutnya ialah pemilu untuk menentukan presma yang terpilih,” kata Abd Hanifan, Ketua Pelaksana Muhima.

Ditanya mengenai calon-calon presma yang akan bertarung nanti, Hanifan masih belum bisa menjawab, karena calon-calon tersebut akan ditentukan pada hari Jumat nanti sesuai musyawarah pada sidang hari pertama.
“Kriteria pencalonan, jurnal mendahulukan loyalitas. Karena sudah kultur dari dahulu, yang penting calon presma loyal dulu. Tapi bukan berarti mengesampingkan faktor lainnya, dan bisa memajuan BEM Jurnalistik,” jelas Hanifan yang ditemui Kamis (17/12/2015).
Ke depannya, harapan bagi calon presma BEM Jurnalistik akan lebih baik dari program Dea Andriyawan sebagai Presma 2014-2015. Program Dea sudah direalisasikan.

“Selain menjalankan program yang sudah ada juga memiliki program baru, dan ada inovasi bagi jurnal,” jelas Hanifan. [] Jinan Vania Barizky | Jurnalistik III B | Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

BANDUNG -- Pergantian pengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurnalistik UIN Bandung periode 2014-2015 tinggal menghitung hari. Presid...

Perak 2015: Lewat Musik Kenalkan Materi Kimia

BANDUNG – “Reduksi-Oksidasi” menjadi salah satu judul lagu yang dinyanyikan oleh peserta lomba akustik dalam Pekan Raya Pendidikan Kimia 2015, Rabu (9/12/2015). Lomba akustik menjadi penutupan dari serangkaian acara Pekan Raya Pendidikan Kimia 2015 yang diselenggarakan di Auditorium UIN SGD Bandung.

Pekan Raya Pendidikan Kimia 2015 telah sampai pada puncak acaranya pada hari ini. Sebagai penutupan diselenggarakan lomba akustik yang diikuti oleh 15 tim. Peserta lomba terdiri dari internal serta eksternal jurusan pendidikan kimia. Ada pula peserta akustik berasal dari umum.

Ada yang berbeda dalam lomba akustik pada Pekan Raya Pendidikan Kimia (Perak) tahun ini. Setiap peserta dari mahasiswa jurusan pendidikan kimia harus menciptakan 1 lagu untuk ditampilkan yang berkaitan dengan materi pembelajaran kimia.
Tujuannya, untuk mengenalkan materi kimia yang dapat dengan mudah untuk dipahami.
Fahmi Muhammad Nurdiansyah, Ketua Pelaksana acara Perak, mengungkapkan alasannya memilih ketentuan baru ini “Selama ini kan banyak orang, khususnya mahasiswa dan pelajar menganggap kimia itu susah. Karena itu, melalui lagu diharapkan menjadi alternatif media pembelajaran yang efektif,” ungkapnya, Rabu (9/12/2015).
Salah satu peserta lomba akustik, Cation Band, menyanyikan lagu yang berjudul “Reduksi-Oksidari”. Mereka sengaja memilih materi tentang Reduksi dan Oksidasi karena materi ini dianggap sulit. “Kami menciptakan lagu ini supaya pendegar bisa akrab dengan materi reduksi dan oksidari,” ujar Indah Safitri (vokal) usai tampil, Rabu (9/12/2015).

Selain itu, Fahmi juga menambahkan, lomba akustik kali ini untuk mendorong kreativitas mahasiswa khususnya mahasiswa jurusan pendidikan kimia. Ia ingin seluruh mahasiwa bukan hanya bisa berkarya dalam bidang akademik saja. Melainkan, bidang seni juga menjadi ajang mereka untuk berkreativitas dan berkarya.

[] Fitriani Utami Dewi | Jurnalistik III B | Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung



BANDUNG – “Reduksi-Oksidasi” menjadi salah satu judul lagu yang dinyanyikan oleh peserta lomba akustik dalam Pekan Raya Pendidikan Kimia 2...

Perpustakaan Tak Cukup Fasilitas Mewah

Perpustakaan UIN Bandung [Foto: Dok. Tim]
BANDUNG | Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung terus melakukan pembenahan fasilitas  kampus. Mulai dari kantin, tempat parkir, perpustakaan, sampai pembangunan kampus baru.

Perpustakaan kampus UIN Bandung terus dibenahi. Dulu, ketika kampus dibenahi, mahasiswa harus pergi ke Cibiru Hilir untuk berkunjung ke perpustakaan kampus. Lokasinya yang jauh cukup menyulitkan mahasiswa. Namun sekarang, perpustakaan sudah dipindahkan ke kampus UIN Bandung. Tentu dengan kondisi yang semakin nyaman.

“Menurut saya perpustakaan sekarang lebih nyaman, karena berada di dalam kampus. Tidak seperti dulu yang harus pergi ke Cibiru Hilir. Kondisi perpustakaan saat ini sangat jauh berbeda dibandingkan terdahulu, sekarang tempatnya lebih nyaman, lebih bersih, dan yang pastinya ada jaringan internet gratis di perpustakaan,” ujar mahasiswa Manajemen Dakwah, Lilis Yulianti, Jum'at (20/11).

Diskianata, staf Perpustakaan UIN Bandung mengatakan, saat ini perpustakaan kampus sudah maju. Untuk mencari buku yang dicari sudah bisa menggunakan komputer pencarian. Tempatnya pun nyaman, karena ada ruang terpisah antara ruang membaca dan ruang wifi-an atau diskusi.

“Buku-buku baru banyak di perpustakaan UIN dan di-update setiap bulan, pertriwulan,semester dan pertahunnya selalu di-update. Pembelian buku berasal dari dana kampus UIN, dan dana perpustakaan interen,” tambah Diskianata, Rabu (25/11).

Kurang Lengkap

Fasilitas yang sudah semakin maju nampaknya masih dirasakan kurang oleh mahasiswa, karena buku-bukunya yang kurang update, sehingga kebanyakan yang datang ke perpustakaan hanya untuk wifi-an.

Mahasiswi psikologi semester 7, Sofi mengatakan, buku-buku di perpustakaan kampus masih kurang. “Saya yang dari Psikologi, mau cari buku diperpus téh susah, masih lengkap di perpustakaan fakultas saya dibanding di perpus UIN. Di sini tuh lebih banyaknya buku-buku Fakultas Ushuluddin, agama-agama, hadist,” ungkap Sofi, saat diwawancara Rabu(25/11).

“Mungkin lebih diperbanyak lagi ya, bukan cuma buku-buku agamanya. Emang ini UIN sih, tapi semua yang ada di kampus ini kan fakultasnya banyak, seperti psikologi, saintek. Nah kaya gitu, lebih dilengkapin lagi. Soalnya kan referensi itu benar-benar nyarinya tuh diperpus yah, sedangkan ini tuh perpus UIN-nya langsung, harusnya lebih lengkap dibanding perpus fakultas,” harap Sofi.

Begitu pun dengan Army Diana, masih merasa kurangnya buku-buku di perpustakaan UIN. “Koleksi bukunya diperbanyak, biar seperti kampus lain lengkap,” ujar Army.

Bapusipda dan Kampus

Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) memberikan bantuan ke perpustakaan yang ada di Perguruan Tinggi se-Jawa Barat. Dengan sistem penyimpaman buku secara besar di bagian pengolahan pada tahun 2014.

Bapusipda memiliki forum Perpustakaan Perguruan Tinggi yang fungsinya untuk bersosialisasi ke kampus di Bandung. Melakukan pertemuan-pertemuan, tujuannya untuk kemajuan perpustakaan Perguruan Tinggi.

“Terkadang melakukan seminar setiap satu tahun sekali untuk pengurus perpustakaan Perguruan Tinggi,” jelas Teti Suryati, Pustakawan Bapusipda, Rabu (25/11).

Di Kampus Lain

Perpustakaan UIN Bandung nampaknya masih sangat jauh jika dibandingkan dengan Perguruan Tinggi Negeri lain di Bandung. Misalnya bila dibandingkan dengan Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Ghita Puspitasari, mahasiswi UPI mengatakan, fasilitas di perpustakaan UPI sudah lengkap. Ada ruang baca, ruang sirkulasi, referensi, reserve, kantin, ruang skripsi, thesis, disertasi, ruang seminar, audio visual, dan ruang jurnal.

“Meskipun fasilitas sudah lengkap, kelengkapan buku masih kurang,” ujar Ghita, Selasa (24/11).

"Di Universitas Padjajaran (Unpad), buku perpustakaan selalu di-update setiap 5 tahun. Perpustakaan pun disediakan sampurna corner, multimedia, dan layanan baca,” kata Kepala Sub Perpustakaan Unpad, Dadi, Rabu(25/11).

Berbeda dengan perpustakaan UIN Bandung yang masih mengharuskan mahasiswa mencari buku di komputer perpustakaan, di Universitas Islam Bandung (Unisba), mahasiswa bisa mencari buku di manapun, karena sudah ada perpus online. Mahasiswa bisa melihat buku yang dibutuhkan dan sudah bisa dipinjam melalui website e-library.unisba.ac.id.

“Meskipun terkendala lahan perpustakaan yang kurang luas, kami berusaha memberikan tempat yang nyaman untuk mahasiswa membaca. Skripsi mahasiswa didigitalkan agar bisa menambah koleksi buku yang lain,” papar Kepala Pengelola Perpustakaan Unisba, Arif, Rabu (25/11).

Janji Tambah Ribuan Buku

Staf perpustakaan UIN Bandung, Diskianata menjelaskan, standar buku yang di perpustakaan UIN Bandung mengikuti perkembangan kurikulum perkuliahan dan menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pengajaran atau proses pembelajaran.

Diskianata juga menambahkan, fasilitas perpustakaan UIN Bandung akan diperbaharui seperti penambahan meja dan kursi untuk pengunjung. Perpustakaan UIN berencana membuat website untuk mempermudah pencarian informasi tentang buku-buku yang ada di perpustakaan. Nantinya, bisa diakses di mana saja tanpa harus ke perpustakaan.

“Ke depannya perpustakaan UIN Bandung akan memiliki ruangan komputer khusus, dan fasilitas internet untuk mahasiswa. Perpustakaan UIN akan menjadi perpustakaan Digital,” ungkap Diskianata.

Rektor UIN Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si, di sela perbincangan dengan crew Labdak mengatakan akan menambah ribuan buku dan memperbarui buku di perpustakaan UIN Bandung. Rencananya akan selesai tahun 2017.

Pustakawan Bapusipda Jabar, Teti Suryati mengungkapkan, standar perpustakaan yang baik harus memiliki fasilitas dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai. “Apa artinya kalau perpustakaan megah tapi tidak ada penggunanya, tidak ada koleksinya. Jadi ya harus memenuhi standar. Koleksinya juga minimal harus ada 1000 eksemplar,” tambah teti.

Teti mengatakan, buku di perpustakaan harus sesuai dengan kebutuhan pengguna. Perpustakaan kampus harus mengadakan quesioner tentang buku apa saja yang dibutuhkan oleh kebanyakan mahasiswa, lalu sesuaikan pengadaannya. Karena apabila bukunya sudah sesuai dengan keadaan mahasiswa, maka mahasiswa pun tidak akan lari ke perpustakaan lain. [] Jurnalistik VC | UIN SGD Bandung

Tim Reportase:

  • Muhammad Ega, Muhammad Nur Rizal, Masjenar, Maulana Fikry, Nadila Eldia Rochlik, Nenden Jahrotul Jannah

Perpustakaan UIN Bandung [Foto: Dok. Tim] BANDUNG | Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung terus melakukan pembenahan fasil...

⬆
Top
Select options on the left to generate your code...